Dokteraldi's Blog

Life is journey not a destination

Sudakah Anda Mengetahui Resusitasi Jantung Paru (RJP/CPR)


Background

Pada pasien-pasien dengan henti jantung, survival rates dan neurologic outcomes sangat kecil, namun dengan resusitasi dini yang efektif, termasuk resusitasi jantung paru (RJP), defibrilasi dini, dan implementasi dari post-cardiac care yang tepat, dapat meningkatkan survival dan neurologic outcomes. Untuk itulah posting ini saya buat untuk meningkatkan pengetahuan kita dalam meningkatkan angka keberhasilan dalam merespons henti jantung.

RJP terdiri dari tindakan kompresi dada dan artifisial ventilasi untuk mempertahankan sirkulasi pernapasan dan oksigenasi selam henti jantung terjadi. Variasi pada RJP diketahui sebagai “Hands only” atau “compression only” RJP hanya terdiri dari kompresi dada. Ini merupakan variasi dari terapi yang berkembang menjadi perhatian sebagai pilihan bagi penolong yang nonmedikal.

Dari studi observasi yang melibatkan lebih dari 40.000 pasien disimpulkan bahwa standar RJP berhubungan dengan peningkatan angka keberhasilan dan nerologik outcome yang baik dibanding COCPT (Compression Only CPR). Namun, studi yang lain menunjukan hasil yang berlawanan, dan sekarang sudah diterima bahwa COCPR merupakan standar superior RJP pada pasien out of hospital cardiac arrest.

Revisi dari American Heart Association (AHA) mengenai guidelines CPR menyatakan bahwa penolong yang tidak terlatih harus melakukan COCPR (hanya compresi dada) sebagai standar RJP.

Lebih dari 300.000 penderita henti jantung yang terjadi setiap tahun di Amerika, angka keberhasilannya secara tipikal lebih rendah 10% untuk kejadian diluar rumah sakit dan lebih rendah 20% pada kejadian di rumah sakit.

Ditambahkan, studi-studi yang telah dilakukan menunjukan bahwa angka keberhasilan menurun 10-15% pada setiap menit henti jantung tanpa pemberian RJP. Penolong saksi yang melakukan RJP awal dengan hitungan menit dari onset hemti jantung telah menunjukan peningkatan angka keberhasilan 2 sampai 3 kalilipat, sama baiknya juga peningkatan neurologic outcome pada 1 bulan.

Artikel ini hanya fokus pada RJP, yang hanya pada satu aspek dari penanganan resusitasi. Intervensi lain, seperti pemberian pharmakologi, defibrilasi jantung, invasif prosedur jalan napas, penggunaan echocardiography dalam resusitasi, dan berbagai macam manuver diagnostik, tidak termasuk dalam artikel ini.

American Heart Assiciation CPR Guidelines

Di tahun 2010, Emergency Cardiovascular Care Committee (ECC) dari AHA merilis guidelines terbaru untuk RJP. Perubahan-perubahan tersebut termasuk :

  • Inisial urutan langkah dirubah dari ABC (airway, breathing, chest compression) ke CAB (chest compressions, airway, breathing), kecuali pada bayi.
  • “Look, listen, and feel” tidak direkomendasikan lagi.
  • Kedalaman kompresi untuk dewasa harus tidak lebih dari lima centimeter.
  • Rata-rata kompresi tidak lebih dari 100x/menit.
  • Penatalaksanaan emergensi kardia tidak direkomendasikan termasuk atropin rutin pada pulseless electrical activity (PEA)/asystole, penekanan cricoid(dengan RJP), dan suksion jalan napas pada semua bayi. (kecuali mereka dengan obstruksi)
  • Penanganan post cardiac arrest dilakukan pada seksi yang baru.

Guidelines AHA 2010 menyatakan bahwa penolong yang tidak ditraining harus melakukan COCPR (dimana sebelumnya AHA guidelines, RJP tidak disarankan dilakukan oleh penolong yang tidak ditraining secara terpisah).

Beberapa studi menyimpulkan bahwa menghentikan kompresi dengan tujuan memberikan ventilasi dapat mengganggu pasien outcome. Sementar penolong menghentikan kompresi untuk memberikan 2 pernapasan, aliran darah juga berhenti, dan penghentian ini akan mencetuskan penurunan tekanan darah secara cepat dimana sudah dilakukan peningkatan tekanan darah pada kompresi sebelumnya.

Indikasi

RJP harus segera dilakukan secepatnya pada orang yang menjadi tidak sadar dan ditemukan tidak ada pulse (tidak ada nadi).

Kehilangan aktivitas yang efektif dari jantung biasanya dicetuskan oleh nonperfusing arrhytmia, kadang-kadang berhubungan kepada aritmia malignan. Penyebab yang paling sering dari nonperfusing arrhytmias termasuk:

  • VF
  • Pulseless VT
  • PEA
  • Asystole
  • Pulseless bradycardia

Meskipun demikia defibrilasi awal telah menunjukan peningkatan angka keberhasilan pada irama VF dan pulseless VT, RJP harus dilakukan sebelum identifikasi irama dilakukan dan harus dilanjutkan sementara defibrilator dipasangkan dan charged. Ditambahkan pu;a, RJP harus dilanjutkan kembali setelah kejutan defibrilator sampai terlihat irama. Ini didukung oleh studi-studi yang menunjukan “preshock pause” pada RJP menghasilkan nilai yang lebih rendah pada keberhasilan defibrilasi pada pemulihan pasien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: